Mengungkap Kepalsuan Teori Gujarat: Sejarah Islamisasi Aceh yang Sesungguhnya
1. Mengungkap Kepalsuan Teori Gujarat Snouck Hourgronje
Islamisasi di Aceh merupakan salah satu fenomena sejarah yang paling menarik dalam perjalanan peradaban Nusantara. Namun, hingga saat ini, berbagai teori tentang masuknya Islam ke Nusantara, khususnya ke Aceh, masih menjadi perdebatan. Salah satu teori yang paling sering dikutip dalam buku-buku sejarah adalah Teori Gujarat, yang dikembangkan oleh Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang memiliki misi untuk melemahkan Islam di Aceh.
Teori ini menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari anak benua India, terutama dari Gujarat dan Bengali, sekitar abad ke-12 atau ke-13. Sayangnya, teori ini masih diajarkan dalam sistem pendidikan Indonesia, meskipun banyak bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Islam datang langsung dari Timur Tengah, bukan dari India.
Oleh karena itu, penting untuk mendekonstruksi sejarah dan mengungkap kepalsuan Teori Gujarat dengan menyajikan bukti-bukti yang lebih akurat tentang proses Islamisasi di Aceh.
A. Snouck Hurgronje dan Misinya Memecah Belah Islam di Aceh
- Mempelajari bahasa Arab dan ajaran Islam secara mendalam hingga ke Mesir dan Mekkah.
- Mengaku sebagai ulama Muslim untuk memperoleh kepercayaan masyarakat Muslim.
- Menikahi seorang Muslimah, anak seorang tokoh berpengaruh di zamannya.
- Menyusun Teori Gujarat sebagai strategi untuk memutus hubungan Islam di Nusantara dengan Timur Tengah, khususnya dengan Mekkah dan Madinah.
B. Bukti-Bukti yang Membantah Teori Gujarat
1. Islam Telah Ada di Nusantara Sebelum Abad ke-12
- Catatan sejarah dari Dinasti Tang (Cina) yang menyebutkan keberadaan pedagang Muslim di pesisir Sumatra sejak abad ke-7.
- Prasasti Leren di Jawa Timur (1082 Masehi) yang menyebutkan komunitas Muslim.
- Makam Sultan Malik al-Saleh (1297 M), raja pertama Kerajaan Samudera Pasai, yang menggunakan tulisan Arab dengan gaya khas Timur Tengah, bukan India.
C. Hubungan Aceh dengan Timur Tengah Sejak Awal
- Pedagang Arab dan Persia telah berdagang di Selat Malaka sejak abad ke-7, membawa ajaran Islam langsung ke Aceh.
- Banyak ulama dari Hadramaut (Yaman) yang datang dan menyebarkan Islam di Nusantara.
- Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab Islam awal di Nusantara adalah bahasa Arab, bukan bahasa India atau Persia.
D. Aceh sebagai Pusat Dakwah Islam di Nusantara
- Islam di Aceh memiliki mazhab Syafi’i, sama seperti yang berkembang di Mekkah dan Madinah, bukan mazhab Hanafi yang banyak dianut di Gujarat.
- Banyak ulama besar Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin Ar-Raniry, yang memiliki hubungan erat dengan Timur Tengah, bukan dengan India
- Kesultanan Aceh sering mengirim santri dan ulama ke Mekkah, bukan ke Gujarat atau India.
E. Dampak Negatif Teori Gujarat terhadap Sejarah Aceh
- Pengkerdilan Peran Aceh dalam Sejarah IslamTeori ini membuat Aceh seolah-olah baru mengenal Islam beberapa abad lalu, padahal Aceh adalah pusat Islamisasi Nusantara sejak awal
- Pemutusan Mata Rantai Spiritual Islam NusantaraIslam di Aceh bukan sekadar "import" dari India, tetapi merupakan bagian dari jaringan Islam global yang langsung terhubung dengan Mekkah dan Madinah.
- Distorsi Sejarah dalam PendidikanHingga kini, banyak buku sejarah di sekolah dan universitas masih mengajarkan Teori Gujarat, padahal teori ini telah dibantah oleh banyak penelitian modern.
2. Teori Mekkah (Arab): Mengungkap Asal-Usul Islamisasi Aceh yang Sesungguhnya
- T.W. Arnold
- Crawfurd
- Keijzer
- Niemann
- SMN. Al-Attas
- A. Hasymi
- Hamka
A. Bukti-Bukti Teori Mekkah dalam Islamisasi Aceh dan Nusantara
1. Catatan Sejarah Mengenai Pedagang Arab di Nusantara
- Sumber-sumber sejarah dari Cina menyebutkan bahwa pada akhir abad ke-7, seorang pedagang Arab telah menjadi pemimpin komunitas Muslim di pesisir Sumatera.
- Sebagian dari pedagang ini melakukan perkawinan dengan penduduk lokal, membentuk komunitas Muslim yang berkembang pesat dan ikut serta dalam penyebaran Islam.
- Dalam kitab ‘Ajaib al-Hind, disebutkan adanya komunitas Muslim di Sriwijaya pada abad ke-10, menunjukkan bahwa Islam telah eksis jauh sebelum abad ke-13 sebagaimana yang diklaim oleh Teori Gujarat.
2. Hubungan Langsung Aceh dengan Mekkah dan Madinah
- Crawfurd menegaskan bahwa Islam di Nusantara, termasuk Aceh, dibawa langsung dari Arab.
- Keijzer menekankan bahwa Islam di Nusantara bermazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab utama di Mekkah dan Madinah.
- Niemann dan De Hollander berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dari Hadramaut, Yaman, yang merupakan pusat penyebaran Islam sejak awal.
3. Bukti dari Literatur Islam di Nusantara
- Al-Attas menegaskan bahwa batu nisan yang ditemukan di Nusantara bukan bukti asal Islam dari Gujarat, melainkan batu-batu itu diimpor dari Gujarat karena pertimbangan jarak dan ketersediaan material.
- Al-Attas juga mengkritik pendekatan sejarawan Barat yang cenderung mengabaikan literatur Islam Nusantara, seperti Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, yang dengan jelas menunjukkan interaksi langsung antara Nusantara dengan Timur Tengah.
B. Pandangan Hamka: Islamisasi Aceh Berasal Langsung dari Mekkah
- Pada Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta tahun 1958, Hamka mengemukakan bahwa Islam berasal langsung dari Mekkah, bukan Gujarat.
- Dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963, Hamka kembali menegaskan bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara jauh sebelum abad ke-13, yakni sekitar abad ke-7 Masehi.
1. Mazhab Syafi’i yang kuat di Indonesia
- Islam di Nusantara didominasi oleh mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab utama di Mekkah.
- Jika Islam berasal dari Gujarat, seharusnya mazhab yang dominan adalah mazhab Hanafi, yang lebih banyak dianut di India.
2. Kunjungan Ibnu Batutah ke Samudera Pasai
- Dalam catatan Ibnu Batutah (abad ke-14), disebutkan bahwa kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berkembang pesat dan menjalankan ajaran Islam dengan baik.
- Hukum Islam yang diterapkan di Samudera Pasai adalah Syafi’i, bukan Hanafi, yang mengindikasikan pengaruh langsung dari Mekkah.
3. Peranan Arab dalam Perdagangan dan Dakwah
- Bangsa Arab telah menguasai perdagangan di Ceylon (Sri Lanka) sejak abad ke-2 SM, yang berarti interaksi mereka dengan Nusantara sudah berlangsung sejak lama.
- Banyak pedagang dan ulama Arab yang datang ke Nusantara secara langsung, baik melalui Yaman, Hadramaut, Mesir, maupun Persia.
C. Islamisasi Aceh Berakar dari Timur Tengah
- Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7, jauh sebelum abad ke-13 seperti yang diklaim dalam Teori Gujarat.
- Komunitas Muslim Arab sudah ada di pesisir Sumatera sejak abad ke-7, sebagaimana disebut dalam sumber sejarah Cina.
- Mazhab Syafi’i yang dominan di Nusantara berasal dari Mekkah, bukan India, yang menunjukkan hubungan langsung dengan Timur Tengah.
- Aceh memiliki hubungan erat dengan Mekkah dan Madinah, dan banyak ulama serta santri yang belajar langsung ke sana.
3. Teori Champa (Jeumpa) Versi Raffles: Mengungkap Peran Jeumpa sebagai Pusat Awal Islamisasi di Nusantara
A. Jeumpa sebagai Pusat Awal Islam di Nusantara
1. Jeumpa Dalam Catatan Sejarah
- Kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 meter
- Kaca jendela dan porselen
- Cincin, kalung panjang, dan anting besar
- Pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya, yang ditandai dengan batu-batu besar
2. Hubungan Jeumpa dengan Kesultanan Islam di Nusantara
- Shahri Poli
- Shahri Tanti
- Shahri Nawi
- Shahri Dito
- Puteri Makhdum Tansyuri (Ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak)
B. Jeumpa dan Peranannya dalam Islamisasi Jawa
1. Hubungan Puteri Champa dengan Raden Fatah
C. Syekh Hamzah Fansuri dan Keterkaitannya dengan Jeumpa
Hamzah ini asalnya Fansuri,Mendapat wujud di tanah Shahrnawi,Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali,Daripada ‘Abd al-Qadir Jilani.
Dalam syair ini, Shahrnawi merujuk pada Syahr Nawi, tokoh dari Kerajaan Jeumpa, yang juga merupakan pendiri Kota Perlak. Syair ini membuktikan bahwa Hamzah Fansuri memiliki keterkaitan langsung dengan Jeumpa, sehingga memperkuat teori bahwa Jeumpa adalah pusat awal Islam di Nusantara.
D. Jeumpa sebagai Titik Awal Islam di Nusantara
- Jeumpa bukan hanya sebuah kerajaan kecil di Aceh, tetapi merupakan pusat awal Islamisasi Nusantara.
- Kerajaan Islam Jeumpa telah berdiri sejak abad ke-8 Masehi (tahun 777 M), lebih awal dibandingkan Perlak dan Pasai.
- Jeumpa memiliki hubungan erat dengan Perlak, Pasai, dan Kesultanan Islam lainnya di Nusantara, termasuk Demak di Jawa.
- Puteri Champa, yang menjadi ibu dari Raden Fatah, kemungkinan besar berasal dari Jeumpa, Aceh, bukan dari Champa di Kamboja.
- Syekh Hamzah Fansuri, salah satu ulama terbesar Nusantara, mengakui asal-usulnya dari wilayah Shahrnawi (Jeumpa).
4. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina: Jalur Perdagangan yang Mengantar Islam ke Nusantara
A. Jalur Perdagangan Nusantara dan Hubungan Dagang Arab-Cina
1. Bukti Arkeologis dan Catatan Sejarah
- Museum Nasional Jakarta menyimpan bejana keramik dari Sumatera Utara dan barang perunggu Cina dari masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM).
- Bukti arkeologi di Sumatera menunjukkan bahwa jalur perdagangan Arab-Cina telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada tahun 607 Masehi.
- Jalur Sutra Maritim yang menghubungkan Laut Merah, Teluk Persia, India, Nusantara, dan Cina sudah aktif sejak abad ke-1 Masehi.
2. Peran Selat Malaka sebagai Pusat Perdagangan Global
- Jalur Darat (Jalur Sutra)
- Menghubungkan Cina dengan Timur Tengah dan Eropa melalui Asia Tengah dan Turkistan.
- Digunakan sejak 500 SM, tetapi mulai mengalami gangguan akibat konflik di Asia Tengah.
- Jalur Laut (Jalur Sutra Maritim)
- Berawal dari Semenanjung Shantung (Cina), melewati Selat Malaka, lalu ke India, Teluk Persia, Suriah, dan Mesir.
- Jalur ini semakin ramai sejak tahun 500 Masehi, ketika keamanan Jalur Sutra darat terganggu.
B. Bukti Keberadaan Komunitas Muslim di Sumatera sebelum Abad ke-7 Masehi
- Sumber sejarah Cina menyebutkan bahwa pada tahun 625 Masehi, hanya 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama, sudah ada perkampungan Arab Muslim di pesisir Sumatera.
- Pada tahun 674 Masehi, seorang pencatat sejarah dari Cina menemukan komunitas Muslim yang telah menetap dan berdagang di pesisir barat Sumatera.
- HAMKA menguatkan temuan ini dan menyebut bahwa bukti-bukti ini telah diakui oleh sejarawan dunia Islam di Princeton University, Amerika Serikat.
C. Catatan Sejarah Dinasti Cina tentang Kedatangan Muslim di Asia Timur
1. Hubungan Diplomatik antara Arab dan Cina
- Empat tahun kemudian, duta Muslim datang kembali mewakili Amirul Mukminin (Tan mi mo ni’), yaitu Khalifah Utsman bin Affan.
- Pada masa Dinasti Umayyah, tercatat 17 kunjungan diplomatik Muslim ke Cina.
- Pada masa Dinasti Abbasiyah, jumlah duta Muslim yang datang ke Cina meningkat menjadi 18 kali.
2. Hubungan Islam dengan Nusantara di Era Dinasti Song
- Sejarah negeri Tiongkok mencatat bahwa pada tahun 977 Masehi, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) mengunjungi Cina sebagai perwakilan dari Kerajaan Islam Perlak.
- Ini membuktikan bahwa Islam telah berkembang pesat di Sumatera sebelum abad ke-10 dan telah memiliki hubungan diplomatik dengan Cina.
D. Hubungan Dagang sebagai Faktor Utama Islamisasi Nusantara
- Islam masuk ke Nusantara jauh sebelum abad ke-13, sebagaimana yang diklaim dalam Teori Gujarat.
- Jalur perdagangan Arab-Cina melalui Selat Malaka telah aktif sejak abad ke-5 Masehi, memungkinkan interaksi antara Muslim Arab dan masyarakat Nusantara.
- Komunitas Muslim telah ada di pesisir Sumatera sejak tahun 625 M, menunjukkan bahwa Islam masuk ke Nusantara hampir bersamaan dengan perkembangannya di Timur Tengah.
- Hubungan diplomatik antara dunia Islam dan Cina telah terjalin sejak abad ke-7, dengan adanya kunjungan duta dari Khalifah Utsman bin Affan ke istana Kaisar Cina.
- Pada abad ke-10, Kerajaan Islam Perlak telah mengirimkan utusannya ke Cina, menunjukkan bahwa Islam telah berkembang pesat di Nusantara.
5. Teori Barus-Fansur Aceh: Pusat Perdagangan dan Penyebaran Islam di Nusantara
A. Barus-Fansur: Kota Dagang Tertua di Nusantara
1. Bukti Sejarah Kapur Barus dalam Perdagangan Global
- Dalam catatan sejarah Arab, Persia, dan Yunani, kapur barus dari Fansur dikenal sebagai "al-Kafur al-Fansuri", yang disebut dalam berbagai buku botani, kedokteran, dan perjalanan.
- Ibn al-Atir (wafat 1233 M) dan Ibn al-Baladuri (wafat 1473 M) mencatat bahwa saat perebutan ibu kota Dinasti Sassanid (Ctesiphon) oleh pasukan Muslim pada tahun 637 M, ditemukan kamper/kafur dalam jumlah besar yang awalnya dikira garam.
- Ibn Gulgul (abad ke-10 M), Ibn Sarabiyun, dan Ibn al-Baytar mencatat bahwa kamper dari Fansur digunakan dalam pengobatan dan ritual keagamaan sejak abad ke-9 M.
2. Barus dalam Catatan Peradaban Arab dan Persia
- Al-Kindi (abad ke-9 M) menyebutkan bahwa kapur barus adalah salah satu unsur utama dalam industri parfum dan obat-obatan di dunia Islam.
- Ibnu Sina (Avicenna, abad ke-10 M) dalam bukunya Al-Qanun Fi al-Tib mencatat bahwa kamper digunakan sebagai obat penenang, antipiretik, dan antiseptik.
- Al-Razi (abad ke-9 M) mengembangkan 31 resep pengobatan berbasis kapur barus, termasuk untuk menangani penyakit pes dan infeksi.
- Dari bukti ini, terlihat bahwa kapur barus dari Fansur tidak hanya terkenal di dunia perdagangan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam dunia kedokteran dan sains Islam, yang memperkuat posisi Nusantara dalam peradaban Islam.
B. Barus-Fansur sebagai Pintu Masuk Islam ke Nusantara
1. Bukti Keberadaan Komunitas Muslim di Barus Sejak Abad ke-7 M
- Dokumen sejarah Cina mencatat bahwa pada tahun 625 Masehi, hanya 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama, telah ditemukan perkampungan Muslim di pesisir Sumatera.
- Prof. Dr. HAMKA menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Cina yang mengembara pada tahun 674 Masehi menemukan komunitas Arab-Muslim di pesisir barat Sumatera, yang kemungkinan besar adalah Barus atau Fansur.
- Dalam kitab sejarah Cina Chiu T’hang Shu (abad ke-7 M), disebutkan bahwa Kekaisaran Cina menerima kunjungan diplomatik dari utusan Muslim pada tahun 651 M, yang berarti interaksi dengan dunia Islam sudah terjadi dalam periode sangat awal.
2. Barus dalam Literatur Geografi Islam
- Ibnu Khurdadhbih (abad ke-9 M) menyebutkan bahwa di belakang Serendib (Sri Lanka) terdapat daerah yang menghasilkan kayu gaharu, kapur barus, dan emas—yang diyakini sebagai Barus dan sekitarnya.
- Abu Zaid Hasan (916 M) menyebut bahwa Fansur dan Barus adalah daerah penting dalam jalur perdagangan Islam, dengan komoditas utama berupa kapur barus dan kayu gaharu.
- Masudi (943 M) mencatat bahwa Fansur adalah satu-satunya daerah yang menghasilkan kapur barus dalam jumlah besar dan menjadi pusat perdagangan internasional.
C. Hubungan Barus-Fansur dengan Kerajaan Islam Nusantara
1. Peran Barus dalam Perkembangan Islam di Sumatera
- Barus-Fansur bukan hanya kota dagang, tetapi juga menjadi pusat awal perkembangan Islam di Sumatera.
- Islam berkembang lebih pesat di Barus dibandingkan daerah lain karena interaksi langsung dengan pedagang Muslim dari Arab dan Persia.
- Para ulama dari Barus kemudian menyebarkan Islam ke kerajaan-kerajaan di sekitar Sumatera, termasuk Perlak, Pasai, dan Aceh Darussalam.
- Barus disebut dalam berbagai literatur sebagai salah satu pusat intelektual Islam awal di Nusantara, tempat banyak ulama belajar dan berdakwah.
D. Barus-Fansur sebagai Pusat Islamisasi Awal di Nusantara
- Barus-Fansur adalah pusat perdagangan internasional yang telah berinteraksi dengan dunia Islam sejak abad ke-7 Masehi, menjadikannya sebagai pintu gerbang awal masuknya Islam ke Nusantara.
- Komunitas Muslim telah eksis di Barus sejak abad ke-7, sebagaimana dicatat dalam sejarah Cina dan Arab.
- Barus disebut dalam banyak literatur Islam sebagai pusat perdagangan kapur barus yang terkenal di dunia, yang mempercepat penyebaran Islam melalui jalur perdagangan.
- Para ulama dan pedagang Muslim dari Barus berperan dalam penyebaran Islam ke kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, termasuk Perlak, Pasai, dan Aceh Darussalam.
6. Teori Kaafuro dalam al-Qur’an: Jejak Kafur Barus sebagai Penghubung Islam dan Nusantara
A. Kafur dalam al-Qur’an: Bukti Keagungan Komoditas Barus di Dunia Islam
1. Makna Kafur dalam al-Qur’an
"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur."
Para mufassir, seperti Ibn Abbas, Jalalain, al-Qurthubi, dan Ibn Katsir, sepakat bahwa kafur dalam ayat ini mengacu pada:
- Minuman yang menenangkan dan menyegarkan, memberikan kenikmatan bagi penghuni surga.
- Obat dan wewangian, yang dikenal di dunia Arab sejak zaman pra-Islam.
- Sumber kenikmatan dan kemewahan, yang dalam konteks historis merujuk pada kapur barus dari Barus, Nusantara.
2. Kafur dalam Kajian Sejarah dan Bahasa
- Kata "kafur" dalam al-Qur’an secara etimologis bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Melayu.
- Kafur sebagai komoditas sudah masuk ke dunia Islam sejak abad ke-7, yang berarti para pedagang Muslim telah membawa kapur barus dari Nusantara ke wilayah Arab dan Persia sejak awal perkembangan Islam.
B. Barus sebagai Penghasil Kafur: Bukti Hubungan Islam dan Nusantara
1. Barus dalam Catatan Sejarah Islam
- Ibn al-Atir (wafat 1233 M) dan Ibn al-Baladuri (wafat 1473 M) mencatat bahwa pada tahun 637 M, ketika pasukan Muslim menaklukkan ibu kota Dinasti Sassanid (Ctesiphon, Persia), mereka menemukan kapur barus dalam jumlah besar.
- Ibnu Sina (Avicenna, abad ke-10 M) dalam Al-Qanun Fi al-Tib mencatat bahwa kapur barus digunakan sebagai obat penenang, antiseptik, dan penyegar tubuh.
- Ibnu Khurdadhbih (abad ke-9 M) mencatat bahwa kapur barus dari Fansur adalah barang dagangan berharga dalam perdagangan global.
2. Barus dalam Catatan Geografi Islam
- Masudi (943 M) menyebut bahwa Fansur adalah satu-satunya wilayah yang menghasilkan kapur barus dalam jumlah besar, menjadikannya sebagai pusat perdagangan internasional.
- Abu Zaid Hasan (916 M) mencatat bahwa Ramni (Sumatera Utara) adalah wilayah yang kaya akan komoditas seperti kapur barus dan kayu gaharu.
- Marco Polo (1292 M) dalam perjalanannya dari Cina ke Eropa juga menyebutkan bahwa Barus dan Perlak telah menerima pengaruh Islam lebih awal dibandingkan daerah lain di Nusantara.
C. Hubungan Aceh dan Islam: Kehormatan bagi Negeri Kafur
1. Barus sebagai Pintu Gerbang Islam di Nusantara
- Aceh telah lama menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Islam Perlak, Pasai, dan Aceh Darussalam.
- Barus tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat penyebaran Islam di Nusantara, yang kemudian menggantikan dominasi Hindu-Buddha.
- Para pedagang Muslim yang datang ke Barus turut menyebarkan Islam, sehingga menjadikan Barus sebagai salah satu tempat awal berkembangnya Islam di Nusantara.
D. Kesimpulan: Kata Kaafuro sebagai Jejak Islamisasi Awal di Nusantara
- Kata "kafur" dalam al-Qur’an bukan berasal dari bahasa Arab asli, tetapi dari bahasa Melayu, yang merujuk pada kapur barus dari Barus, Aceh.
- Sejak abad ke-7 Masehi, kapur barus dari Barus telah menjadi komoditas utama dalam perdagangan dunia Islam, yang menunjukkan bahwa Nusantara telah memiliki hubungan erat dengan dunia Islam sejak awal perkembangan Islam.
- Para mufassir dan sejarawan Islam mencatat bahwa kapur barus dari Barus adalah simbol kemewahan dan digunakan dalam berbagai bidang, seperti pengobatan, parfum, dan ritual keagamaan.
- Barus menjadi titik awal interaksi antara Nusantara dan dunia Islam, sehingga tidak mengherankan jika wilayah ini menjadi salah satu pusat penyebaran Islam pertama di Nusantara.
7. Teori Korespondensi Khalifah Abdul Aziz-Raja Sri Indravarman: Awal Islamisasi di Nusantara
A. Bukti Korespondensi antara Raja Sri Indravarman dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
1. Isi Surat Raja Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz
"Dari Raja di Raja (Malik al-Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan Tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya."
Dari isi surat ini, beberapa poin penting dapat diambil:
- Raja Sri Indravarman menyebut dirinya sebagai "Raja di Raja", yang menunjukkan bahwa Sriwijaya saat itu adalah kerajaan besar dan kuat di Asia Tenggara.
- Sriwijaya memiliki komoditas unggulan seperti gaharu, rempah-rempah, pala, dan kapur barus, yang menegaskan bahwa Nusantara telah menjadi pusat perdagangan global.
- Raja Sriwijaya mengakui keberadaan Islam dan menunjukkan ketertarikannya terhadap ajaran Islam, dengan meminta khalifah mengirimkan seorang ulama untuk mengajarkan Islam dan hukum-hukumnya.
2. Tahun Korespondensi dan Awal Islamisasi Politik di Nusantara
- Sebelumnya, Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, di mana para pedagang Arab dan Persia yang datang ke pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan Jawa turut menyebarkan ajaran Islam.
- Setelah korespondensi ini, hubungan Islam dengan Nusantara berkembang ke arah politik dan diplomasi, dengan adanya komunikasi langsung antara penguasa Nusantara dan pemimpin dunia Islam di Arab.
B. Dampak Korespondensi terhadap Islamisasi Nusantara
1. Pengaruh terhadap Penyebaran Islam di Kerajaan Sriwijaya
- Meningkatnya hubungan antara Sriwijaya dan dunia Islam, yang tidak lagi terbatas pada perdagangan tetapi juga mencakup aspek keagamaan dan budaya.
- Masuknya ulama ke Sriwijaya, yang kemungkinan besar mulai berdakwah di kalangan istana dan masyarakat umum.
- Terbukanya pintu bagi penyebaran Islam di wilayah Nusantara lainnya, khususnya di Sumatera dan Semenanjung Malaya.
- Kerajaan Islam Perlak (berdiri tahun 805 Masehi), yang menjadi salah satu kerajaan Islam pertama di Nusantara.
- Kerajaan Samudera Pasai (abad ke-13), yang menjadi pusat studi Islam dan perdagangan Islam di Sumatera.
2. Awal Islamisasi Raja-Raja di Nusantara
- Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.
- Transformasi sosial dan budaya, dari sistem kepercayaan Hindu-Buddha menuju nilai-nilai Islam.
- Hubungan yang lebih erat antara Nusantara dan dunia Islam di Timur Tengah, yang semakin berkembang pada era Kesultanan Aceh dan Kesultanan Demak.
C. Kesimpulan: Korespondensi Sebagai Bukti Masuknya Islam ke Nusantara Sejak Awal
- Islam telah dikenal oleh penguasa Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, jauh sebelum Islam berkembang pesat pada abad ke-13 sebagaimana yang diklaim oleh Teori Gujarat.
- Korespondensi antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Raja Sri Indravarman menunjukkan bahwa Islamisasi di Nusantara tidak hanya melalui jalur perdagangan, tetapi juga melalui hubungan diplomatik dan politik.
- Permintaan Raja Sri Indravarman agar dikirimkan ulama menunjukkan ketertarikan kalangan kerajaan terhadap Islam, yang kemungkinan besar menjadi cikal bakal penyebaran Islam di Sumatera dan sekitarnya.
- Setelah era Sriwijaya, Islam mulai berkembang lebih pesat, yang ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Perlak, Pasai, dan Aceh Darussalam.
8. Teori Kerajaan Islam Perlak: Awal Islamisasi dan Peradaban Islam di Nusantara
A. Asal-Usul Kerajaan Islam Perlak
1. Perlak sebagai Pusat Perdagangan Islam di Nusantara
- Pada abad ke-8 Masehi, pelabuhan ini telah dikuasai oleh para pedagang Muslim dari Persia dan Arab, yang menjadikan Perlak sebagai pusat aktivitas perdagangan Islam di Asia Tenggara.
- Banyak pedagang Muslim yang menetap di Perlak, menikah dengan penduduk setempat, dan membentuk komunitas Muslim yang berkembang pesat.
- Akhirnya, komunitas Muslim ini membangun pemerintahan Islam pertama di Nusantara, dengan mendirikan Kerajaan Islam Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 Masehi).
2. Hubungan Perlak dengan Kerajaan Islam Jeumpa
- Pendiri Kerajaan Islam Perlak adalah Maulana Abdul Aziz Syah, cucu dari Syahr Nuwi, seorang Pangeran Jeumpa yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh penyebaran Islam awal di Aceh.
- Perlak berkembang sebagai kerajaan yang mewarisi budaya Islam dari Jeumpa, yang sebelumnya telah menerima pengaruh dakwah Islam dari para pedagang Arab dan Persia.
- Dengan berdirinya Perlak, Islam semakin kuat di wilayah Aceh, yang kemudian berkembang ke Samudera Pasai, Malaka, hingga ke Jawa.
B. Kerajaan Islam Perlak dan Pengaruh Syi’ah di Nusantara
1. Hubungan Perlak dengan Revolusi Syi’ah di Persia
- Abdullah bin Mu'awiyah, seorang keturunan Ja’far bin Abi Thalib, memimpin pemberontakan melawan Dinasti Umayyah, namun akhirnya kalah dalam Pertempuran Maru Sydhan pada tahun 746 Masehi.
- Para pengikutnya melarikan diri ke India, Semenanjung Malaya, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.
- Mereka membawa ajaran Islam bercorak Syi’ah, yang kemudian berasimilasi dengan budaya lokal dan berkembang di Perlak.
2. Peran Ulama Syi’ah dalam Penyebaran Islam di Perlak
- Muhammad bin Ja’far Shadiq tiba di Perlak bersama 100 orang pendakwah, yang terdiri dari ulama Arab, Persia, dan India.
- Ia menikah dengan Putri Makhdum Tansyuri, adik dari penguasa Perlak, Meurah Syahr Nuwi, dan memiliki seorang putra, yaitu Sayyid Abdul Aziz.
- Sayyid Abdul Aziz kemudian diangkat menjadi Sultan pertama Kerajaan Perlak pada tahun 840 Masehi, dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.
C. Perlak sebagai Pusat Islamisasi Nusantara
1. Perlak sebagai Penghubung Dunia Islam dan Nusantara
- Para pedagang dan ulama dari Timur Tengah sering singgah di Perlak, menjadikan kerajaan ini sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam di Nusantara.
- Perlak menjadi pelopor dalam membentuk kerajaan-kerajaan Islam lain di Nusantara, seperti Samudera Pasai dan Aceh Darussalam.
2. Pengaruh Perlak dalam Islamisasi Kerajaan-Kerajaan di Nusantara
- Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13)
- Pasai berkembang sebagai pusat studi Islam di Nusantara dan menjadi penghubung antara dunia Islam dan kepulauan Melayu.
- Banyak ulama dari Timur Tengah datang ke Pasai untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu Islam.
- Kesultanan Malaka (abad ke-15)
- Kesultanan Malaka menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan memperkuat dakwah Islam di Semenanjung Malaya.
- Kesultanan Demak dan Mataram Islam di Jawa (abad ke-15 hingga ke-17)
- Islam mulai berkembang pesat di Jawa, didukung oleh ulama dari Pasai dan Perlak yang menyebarkan ajaran Islam melalui perdagangan, dakwah, dan pendidikan.
D. Kesimpulan: Perlak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara
- Kerajaan Islam Perlak berdiri pada tahun 840 Masehi, menjadikannya kerajaan Islam pertama di Nusantara.
- Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan dan Islamisasi, yang menjadi tempat bertemunya para pedagang Arab, Persia, dan India dengan penduduk lokal.
- Banyak ulama dan pedagang Muslim menetap di Perlak, menikah dengan penduduk setempat, dan melahirkan generasi Muslim di Nusantara.
- Islam berkembang di Perlak melalui jalur perdagangan dan dakwah, hingga akhirnya membentuk pemerintahan Islam di Nusantara.
- Perlak menjadi cikal bakal berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti Samudera Pasai, Malaka, dan Demak.
Posting Komentar untuk "Mengungkap Kepalsuan Teori Gujarat: Sejarah Islamisasi Aceh yang Sesungguhnya"